BANJIR DI MARINA JADI MASALAH SERIUS, WARGA DESAK PENANGANAN MENYELURU
- Feb 19, 2026
- KIM CERDAS INFORMASI
Tanjung Riau, 19 Februari 2026
Malam kedua Ramadan 1447 Hijriah menjadi malam yang penuh keprihatinan bagi masyarakat wilayah Marina Basecamp, Kelurahan Tanjung Riau. Hujan yang turun sejak sore hingga malam hari memicu banjir di sejumlah titik pemukiman. Genangan air yang awalnya tampak biasa, perlahan berubah menjadi luapan yang merendam jalan, fasilitas umum, hingga masuk ke dalam rumah warga.
Sejumlah perumahan terdampak cukup parah, di antaranya Perumahan Ricci Tahap 1, Tahap 2, dan Tahap 3. Di Ricci 3, beberapa blok dilaporkan telah terendam hingga air masuk ke rumah warga. Situasi serupa terjadi di Perumahan Gesya Blok 11 dan 12 RT 002, di mana drainase induk yang sebelumnya digali oleh pengembang untuk resapan air dilaporkan meluap dan tidak mampu lagi menampung debit air.
Warga mempertanyakan kondisi drainase tersebut dan meminta dilakukan pengecekan menyeluruh. “Jika drainase induk yang dibuat pengembang sudah penuh dan melimpah, maka genangan di Gesya seakan tidak ada obatnya lagi,” ujar salah satu warga.
Permasalahan utama yang mencuat adalah jalur pembuangan air menuju laut yang hanya memiliki satu akses, yakni di belakang kawasan Benih Raya. Kondisi ini menyebabkan air harus “mengantre” menuju hilir. Saat debit air tinggi, air terlebih dahulu meluap ke pemukiman sebelum akhirnya perlahan surut ke laut.
“Air lagi antre menuju hilir. Jadi mampir dulu ke rumah-rumah warga,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat dengan nada prihatin.
Ironisnya, meski kondisi laut telah dua kali memasuki fase surut, air di sejumlah pemukiman belum juga surut sepenuhnya. Hal ini memicu dugaan adanya persoalan serius di bagian hilir pembuangan. Warga bahkan menyebut kondisi ini seperti “orang berjalan dengan satu kaki,” karena sistem pembuangan hanya bertumpu pada satu jalur utama.
Selain faktor drainase dan keterbatasan hilir, warga juga menyoroti dugaan penyempitan sungai akibat aktivitas penimbunan lahan di kawasan Villa Opus Bay yang berada di belakang Hotel Holiday Inn. Penimbunan tersebut dikhawatirkan mempersempit aliran air dan memperparah banjir di wilayah hulu.
“Harus diselidiki dari hilir ke hulu. Jangan hanya di lingkungan kita saja. Penyebab banjir ini tidak pernah selesai dari tahun ke tahun,” tegas seorang warga lainnya.
Beberapa proyek pembangunan di kawasan Marina juga diminta untuk dipantau ketat. Warga menilai pesatnya pembangunan perumahan, ruko, dan fasilitas komersial tidak diimbangi dengan kajian drainase yang memadai. Jalan dari simpang Victoria menuju Graha Namarina bahkan dilaporkan tidak dapat dilalui akibat banjir, diduga sebagai dampak pembangunan di sisi kiri dan kanan jalan.
Kondisi serupa juga terjadi di Perumahan Graha Mas Blok E No. 1 Cluster I RT 05 RW 13, Kavling Kendal Sari Tahap 1, serta sejumlah titik di Rhabayu Garden RW 027. Di Gesya Eternal Marina Blok C17 yang berbatasan dengan Opus Bay, air juga dilaporkan meluap.
Sebagai langkah tanggap darurat, sejumlah portal di lingkungan RW 26 Erdofa diminta tetap dibuka untuk memudahkan akses evakuasi warga Benih Raya. Solidaritas warga terlihat ketika beberapa RT dan RW berkoordinasi membuka akses jalan demi keselamatan bersama.
Kunjungan aparat pemerintah pun dilakukan. Pak Camat dan Sekretaris Kelurahan bersama RT dan RW setempat meninjau langsung posko pengungsian Benih Raya. Kehadiran mereka diapresiasi warga sebagai bentuk perhatian dan dukungan moral di tengah situasi sulit.
Namun demikian, warga menegaskan bahwa solusi jangka panjang harus segera dirumuskan. Mereka menyatakan bahwa hilir pembuangan air se-Marinabasecamp, termasuk kiriman dari wilayah Kecamatan Sagulung dan Kelurahan Tanjung Uncang, saat ini sudah tidak mampu menanggung debit air yang terus meningkat.
“Kalau hilir ini aman dan mampu menampung debit air, insyaAllah Marina dan sekitarnya akan aman. Tapi faktanya, hilir tidak sanggup lagi,” ungkap seorang Ketua RT.
Warga juga menyoroti kurangnya keterlibatan RT dan RW dalam pertemuan-pertemuan dengan pihak pengembang. Mereka merasa sering tidak dilibatkan dalam pembahasan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan perizinan pembangunan.
Sejumlah usulan konkret pun disampaikan warga, di antaranya:
-
Mengawal pihak pemberi izin, dalam hal ini BP Batam.
-
Mengawal pengembang (developer) agar bertanggung jawab atas sistem drainase dan dampak lingkungan.
-
Mengawal proses dan hasil AMDAL.
-
Mengawal setiap pertemuan yang membahas AMDAL agar melibatkan perwakilan masyarakat.
“Kalau hanya satu atau dua orang yang bersuara, mungkin tidak dianggap. Tapi kalau 27 RW bersuara bersama, pasti jadi prioritas,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Di sisi lain, warga juga mengingatkan pentingnya kebersamaan lintas perumahan. Mereka mencontohkan kondisi di depan Marina Raya yang sempat tergenang dan sulit dilalui. Meski memiliki opsi menutup portal untuk membatasi akses, warga memilih tidak melakukannya demi kepentingan bersama.
“Kebersamaan lebih penting dari segalanya,” ujar seorang pengurus RW.
Situasi banjir kali ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Warga menyebut Marina Basecamp ibarat “bom waktu” apabila persoalan hilir dan sistem drainase tidak segera ditangani secara menyeluruh.
Malam Ramadan yang seharusnya menjadi momen ibadah dan ketenangan berubah menjadi malam penuh kewaspadaan. Meski demikian, doa dan harapan tetap dipanjatkan agar seluruh warga yang terdampak diberikan perlindungan dan keselamatan.
Permasalahan banjir di Marina bukan lagi persoalan musiman, melainkan telah menjadi isu struktural yang membutuhkan kolaborasi serius antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat. Tanpa langkah konkret dan pengawasan bersama, bukan tidak mungkin wilayah yang hari ini selamat, esok akan turut terendam.
Tim Redaksi: Kim Cerdas Informasi