SAMPAH LAMA DIANGKUT, WARGA MARINA MENGELUH DAN JENUH

  • Feb 21, 2026
  • KIM CERDAS INFORMASI

Tanjung Riau, 21 Februari 2026

Persoalan sampah kembali menjadi keluhan serius warga di kawasan Marina, Tanjung Riau. Dalam beberapa bulan terakhir, pengangkutan sampah yang sebelumnya relatif lancar kini disebut-sebut mengalami keterlambatan signifikan. Jika sebelumnya sampah diangkut secara rutin setiap minggu, kini rata-rata pengangkutan hanya dilakukan dua minggu sekali. Kondisi ini memicu keresahan dan kejenuhan warga yang merasa lingkungan tempat tinggal mereka semakin tidak nyaman.

Tumpukan sampah yang menggunung di depan rumah-rumah warga memunculkan berbagai persoalan baru. Bau menyengat tercium hampir di setiap sudut perumahan. Lalat beterbangan, belatung berserakan, bahkan air lindi mengalir ke selokan saat hujan turun. Warga mengaku khawatir kondisi ini akan memicu penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia.

“Kalau tidak dibuang ke depan rumah, sampah menumpuk di dalam dan baunya makin parah. Tapi kalau dibuang, lama diangkut. Kami jadi serba salah,” ujar salah seorang warga Marina yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini tidak hanya memicu ketidaknyamanan, tetapi juga memunculkan gesekan antarwarga. Beberapa warga yang tidak mampu menahan diri memilih membuang sampah di sepanjang jalan atau di lahan kosong. Akibatnya, karung dan kantong plastik berserakan di berbagai titik, memperburuk pemandangan dan mencoreng citra kawasan.

RT dan RW setempat menjadi pihak yang paling sering menerima keluhan, bahkan tidak jarang menjadi sasaran kemarahan warga. Padahal, menurut pengurus lingkungan, kebijakan terkait pengelolaan sampah berada di tingkat yang lebih tinggi. “Kami di RT/RW tidak punya kewenangan untuk menentukan jadwal atau menambah armada. Tapi yang dicari dan disalahkan tetap kami,” ungkap salah seorang pengurus lingkungan.

Secara umum, biaya iuran sampah di sejumlah perumahan di Batam setelah subsidi berkisar sekitar Rp7.000 atau lebih, tergantung tipe rumah. Namun, ada pula warga yang menggunakan jasa pengangkutan swadaya atau menyewa pihak lain tanpa subsidi, dengan biaya bulanan yang jauh lebih mahal. Hal ini tentu memberatkan sebagian masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Dalam sistem yang berjalan saat ini, terdapat dua model penanganan sampah. Sampah dari perumahan dikumpulkan terlebih dahulu di TPS (Tempat Penampungan Sementara). Setelah itu, barulah diangkut ke TPA Punggur. Namun, proses ini bukan tanpa kendala. Untuk membuang sampah ke TPS pun ada aturan dan penjagaan tertentu sehingga masyarakat tidak bisa sembarangan membuangnya. Selain itu, keberadaan TPS menambah tahapan kerja, karena ada proses bongkar muat ulang sebelum sampah dibawa ke TPA. Hal ini dinilai memperpanjang rantai distribusi dan berpotensi menimbulkan keterlambatan.

Warga menilai bahwa akar persoalan harus dibenahi dari sisi armada pengangkut. Ketersediaan truk, jadwal operasional, dan manajemen pengangkutan menjadi kunci utama agar sampah tidak menumpuk terlalu lama di lingkungan perumahan. Apalagi menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, volume sampah biasanya meningkat signifikan, sementara keterlambatan pengangkutan justru lebih sering terjadi.

Sebagai kota dengan citra modern dan strategis, Batam dikenal luas sebagai salah satu beranda terdepan Indonesia. Ikon-ikon seperti Jembatan Barelang dan kawasan pusat pemerintahan di Alun-Alun Engku Putri menjadi simbol kemajuan daerah. Namun, persoalan sampah yang tak kunjung selesai dikhawatirkan dapat mencederai reputasi tersebut.

Pengamat lingkungan menilai bahwa persoalan persampahan bukan hanya soal di hilir, tetapi juga di hulu. Ketersediaan armada, efektivitas jadwal, manajemen operasional, hingga kesadaran masyarakat untuk memilah dan tidak membuang sampah sembarangan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Tanpa pembenahan menyeluruh, persoalan ini dikhawatirkan akan terus berulang dari waktu ke waktu.

Salah satu solusi yang dinilai potensial adalah penguatan program bank sampah di setiap perumahan. Bank sampah dapat menjadi alternatif untuk mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya sampah non-organik seperti plastik, kertas, karton, dan besi. Jika dikelola dengan baik, bank sampah tidak hanya membantu mengurangi penumpukan, tetapi juga berpotensi menambah pemasukan kas RT. Namun, warga menilai sosialisasi dan pendampingan dari pemerintah setempat serta dinas terkait masih perlu ditingkatkan.

Sementara itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut persoalan sampah di Batam sebagai masalah yang kompleks dan perlu dibenahi dari hulu hingga ke hilir. “Kesimpulan saya, hulu harus dibereskan dan hilir juga harus dibereskan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Batam Pos.

Dalam upaya meningkatkan semangat dan kinerja petugas kebersihan, ia juga mengumpulkan sekitar 950 petugas dalam apel bersama di Alun-Alun Engku Putri Batam Center. Pemerintah saat ini tengah mengkaji skema pengelolaan sampah ke depan, apakah akan bermitra dengan pihak swasta atau dikelola secara mandiri oleh pemerintah daerah. Sebuah task force disebut tengah menyiapkan konsep matang beserta aspek perizinannya.

Di tengah berbagai wacana dan kajian tersebut, masyarakat berharap persoalan sampah tidak sekadar menjadi isu musiman. Warga Marina, Tanjung Riau, dan kawasan lain di Batam mendambakan solusi konkret dan berkelanjutan.

Lima Harapan Masyarakat terhadap Pemerintah Terkait Persoalan Sampah:

  1. Pemerintah segera menambah dan memperbaiki armada pengangkut agar jadwal pengambilan sampah minimal kembali rutin satu minggu sekali.

  2. Transparansi jadwal dan sistem pengelolaan sampah agar warga mengetahui alur dan kendala yang terjadi.

  3. Peningkatan sosialisasi dan pembinaan bank sampah di setiap perumahan untuk mengurangi volume sampah.

  4. Evaluasi menyeluruh sistem TPS dan TPA agar proses distribusi tidak berbelit dan memperlambat pengangkutan.

  5. Penegakan aturan yang adil, baik kepada warga yang membuang sampah sembarangan maupun kepada pihak pengelola yang lalai menjalankan tugasnya.

Persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang kesehatan, kenyamanan, dan citra kota. Warga berharap, dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, Batam dapat benar-benar menjadi kota yang bersih, tertib, dan membanggakan.

Tim Redaksi: Kim Cerdas Informasi